Google

Wednesday, June 18, 2008

KENALI “BULLYING “ atau KEKERASAN.

Bullying adalah kekerasan yang acapkali singgah di zone sekolah, jika hal ini tidak dicermati akan berdampak panjang pada psikologi anak. Kehadiran tanpa diundang, karena fenomena ini hadir bersama keunikan anak itu sendiri. Anak-anak sebagai individu memiliki kekhasan [personality trait], jika anak itu memiliki personalitas yang lemah cenderung dimanfaatkan oleh temanya yang memiliki tamperamen lebih. Jika hal ini terjadi di kisaran anak usia dini [prasekolah] akan, akan memberatkan tugas guru, karena di kisaran ini seharusnya, dilakukan upaya-upaya persiapan anak untuk memasuki sekolah.
Depo ini menemukan buku yang pantas untuk diketahui oleh siapa saja, yang terlanjur dianugerahi rasa cinta kepada anak. Depo merasa bahagia ketika menemukan buku ini, disamping perannya seperti sebuah universitas, sehingga seorang-orang yang telah membaca buku ini merasa langsung paham dan langsung mampu mengaplikasikan. Buku ini juga berperan seperti ensiklopedia, juga semacam buku panduan.
Detil Buku:
JUDUL : Bullying. Mengatasi Kekerasan di Sekolah dan Lingkungan Sekitar Anak
PENULIS: Ariobimo Nusantara
PENERBIT : PT Grasindo Jakarta.
ISBN: 978-979-025-107-6
CETAKAN : 2008
HALAMAN: IX + 125
[Buku ini buah pengabdian tak terhingga Yayasan Semai Jiwa Amini (Sejiwa)]

Apa itu Bullying?
Bullying adalah sebuah situasi di mana terjadinya penyalahgunaan kekuatan/kekuasaan yang dilakukan oleh seorang-orang atau kelompok. Pihak yang kuat di sini tidak hanya berarti kuat dalamukuran fisik, tetapi bisa juga kuat secara mental. Dalam hal ini sang korban bulyying tidak mampu membela atau mempertahankan dirinya karena lemah secara fisik dan atau mental.
Apa saja wujudnya?
Terdapat beberapa jenis dan wujud bullying, tetapi secara garis besar dikelompokkan menjadi tiga kategori:
  1. bullying fisik
  2. bullying non fisik
  3. bullying mental/piskologis

Ciri Bullying Fisik:

  • menampar
  • menimpuk
  • menginjak kaki
  • menjegal
  • meludahi
  • memalak
  • melempar dengan barang
  • menghukum dengan berlari keliling lapangan
  • menghukum dengan casa push-up [fisik]
  • menolak

Ciri Bullying Verbal:

  • memaki
  • menghina
  • menjuluki
  • meneriaki
  • mempermalukan di depan umum
  • menuduh
  • menyoraki
  • menebar gosip
  • memfitnah
  • menolak

Ciri Bullying Mental:

  • memandang sinis
  • memandang penuh ancaman
  • mempermalukan di depan umum
  • mendiamkan
  • mengucilkan
  • mempermalukan
  • meneror lewat HP, SMS, E-mail dll
  • memandang yang merendahkan
  • memlototi
  • mencibir

Bullying sebagai faktor penghambat:
Bullying adalah penghambat besar bagi seorang-orang untuk mengatualisasi diri. Bullying tidak memberi rasa aman dan nyaman, membuat para korban bullying mersa takut dan terintimidasi, rendah diri serta tak berharga, sulit konsentrasi dalam belajar, tidak bergerak untuk bersosialisasi dengan lingkunganya, enggan bersekolah, pribadi yang tak percaya diri dan sulit berkomunikasi, sulit berpikir jernih sehingga prestasi akademisnya dapat terancam.

Mengapa anak itu menjadi bully.

  • Karena mereka pernah menjadi korban bullying
  • ingin menujukkan eksistensi diri
  • ingin diakui
  • pengaruh tayangan TV yang negatif
  • senoiritas
  • iri hati
  • menutup kekurangan diri
  • mencari perhatian
  • balas dendam
  • iseng
  • sering mendapat perlakukan kasar di ramah tangga dan dari teman-teman
  • ingin terkenal
  • ikut-ikutan


Ciri yang biasa dijadikan korban:

  • isik lemah/kecil
  • berpenampilan lain
  • sulit gaul
  • siswa yang rendah diri
  • anak yang canggung
  • anak yang memiliki aksen bicara yang berbeda
  • anak yang dianggap menyebalkan
  • anak yang cantik/ganteng atau sebaliknya
  • anak orang kaya atau sebaliknya
  • anak yang gagap
  • anak yang dianggap sering argumentasi terhadap bully

[Wusana kata: Guru atau orang tua harus mengenali, masalah ini dan mengambil peran mendekat kepada bully. Dengan terpaksa tidak dapat diposting secara lengkap, karena akan mencundangai hakl penerbit. Buku ini sangat pantas dimilki oleh guru-guru prasekolah/ guru TK]

Tuesday, May 27, 2008

BUKU PENDUKUNG BERMAIN SAMBIL BELAJAR DENGAN "AROMA" KE-ISLAMAN

Ketika Depo memberikan prasaran pada Seminar Nasional yang di selenggarakan oleh sebuah Yayasan yang bergerak di bidang Pengembangan Sumber Daya Manusia-- [Yayasan "TARGET JAWA TIMUR"]. Seminar itu membicarakan tentang "Permainan dan Pembelajaran" . Ketika pada sesi tanya jawab, terdapat beberapa partisipan yang ingin mengetahui lebih dekat hal ikhwal terkait dengan metode yang tepat untuk diterapkan di sekolah Islam, maksudnya adalah sekolah yang diselenggarakan oleh oraganisasi Islam. Tentunya pertanyaan itu yang ada sangkut pautnya dengan materi pembelajaran, startegi dan proses pembelajarannya. Penanya saat itu meragukan apakah lazim mengajarkan materi Agama kok melalui permainan. Keraguan tersebut haruslah dimaklumi, karena popularitas "permainan" untuk pengajaran yang terkait dengan citarasa KeIslaman bulum dapat dirasakan dan terpasarkan.
Depo ingin mengurai kegelisahan itu, untuk sementara hanya kami informasikan buku-buku yang dapat membantu memecahkan kegelisahan tersebut buku itu adalah:

Buku ini berisi sebanyak 40 model latihan dalam bentuk permainan, kecenderungan menggambarkan bagaimana membangun suatu pola sikap kebersamaan diantara para peserta. Kreativitas masih dikedepankan sehingga memenuhi sasaran. Kreativitas yang dimaksud adalah bentuk adaptasi dengan setting lingkungan sebenarnya.




JANGAN RAGU MENGGUNAKAN PERMAINAN, BERIKUT DAYA DUKUNG YANG MEYAKINKAN:

[I]
Dan tiadalah kehidupan dunia ini selain dari main-main dan senda gurau belaka. Dan sungguh kampung akhirat itu lebih baik bagi orang-orang yang bertakwa. Maka tidaklah kamu memahaminya? [Q.S. Al An'am, 6:32]
[II]
Maka apakah kamu mengira bahwa sesungguhnya Kami menciptakan kamu secara main-main dan bahwa kamu tidak akan dikembalikan kepada Kami? [Q.S. Al Mukminum, 23:115]
[III]
Dan tidaklah Kami ciptakan langit dan bumi dan segala yang ada di antara keduanya dengan bermain-main [Q.S. Al Anbiya, 21:16]
[IV]
Dan Kami tidak menciptakan langit dan bumi dan apa yang ada antara kedauannya dengan

bermain-main [Q.S. Ad Dukhan, 44:38]

BUKU INI MEMBERI DUKUNGAN PARA GURU/PELATIH DALAM MELAKUKAN KEGIATAN OUTDOOR.

BUKU PENDUKUNG LAIN:

JUDUL : GAmes For Islamic Mentoring

PENULIS : Muhamas Ruswandi [Tim ILNA Learning Centre]

PENERBIT: PT. Syaamil Cipta Media Bandung

ISBN : 979-3529-92-4

HALAMAN : xiv, 92, 23,5 Cm.

Isi buku ini terdiri atas empat bagian, yaitu sebagai berikut:

  1. Bagian Dasar-dasar Keislaman.
  2. Bagian Pengembangan diri
  3. Bagian Dakwah dan Pemikiran Islam
  4. Bagian Sosial Kemasyarakatan

Kekuatan buku ini, disetting untuk pembelajaran yang efektif, oleh karena itu setiap bab terdiri atas enam bagian umum, yaitu:

  • judul;
  • tujuan;
  • langkah-langkah;
  • pertanyaan hikmah;
  • alat dan bahan
  • waktu;

WARNING BUKU:

Buku ini juga memberikan periingatan kepada mentee/pelatih/pemandu, utamanya terkait dengan penggunaan games yang salah. Terdapat beberapa kesalahan ataupun kesulitan dalam penggunaan games mentoring. Mentor/pelatih/pemandu yang tidak berpengalaman, merasa tidak aman, dan tanpa persiapan akan menggunkan games untuk membuang-buang waktu. Kesalahan berikutnya adalah, Games yang seharusnya fokus pada proses belajar, terselewengkan dengan dominasi kelucuan dan humor sehingga mengalihkan perhatian dari tujuan program secara keseluruhan.

PERMAINAN DALAM PEMBELAJARAN



PENGANTAR:
Kita sadar bahwa bermain adalah sebuah dunia yang penuh keragaman dan menyenangkan, barangkali lebih tepat bila dinyatakan “mengasyikkan”.
Siapa saja yang terlibat akan merasa terhibur dan senang, bahkan akan menjadi sebuah energi potensial yang tak tertandingi.
Terminologi bermain, melekat pada realitasnya, artinya seorang-orang akan merasakannya ketika melakukan. Hampir setiap orang dapat dipastikan paham akan makna bermain, tanpa harus mencari ensiklopedi, orang jadi mengerti. Hal ini dikarenakan bermain itu adalah bagian hidup dari manusia.
Bermain merupakan aktivitas yang menyenangkan, oleh karenanya harus difungsikan dengan optimal, serta dimanfaatkan untuk berbagai tujuan
Proses pembelajaran seharusnya, memainkan fungsi-fungsi permainan, karena tujuan membelajarkan seorang orang akan tercapai manakala berada pada kondisi yang menyenangkan. Beberapa fenomena menunjukkan kepada kita, yakni munculnya sinyalemen negative kepada dunia pendidikan. Selanjutnya fenomena itu menjadikan seorang Paulo Fraire menorehkan potret empirinya, ke dalam buku “Pendidikan yang Menindas” [Pedagogy oppressed]. Fenomena itu terkesan dan mengesankan bahwa pendidikan seperti memenjara siswa. Oleh karenanya anak perlu dibebaskan, demikian kata Ivan Illich. Bahkan Nail Postman mengatakan bahwa pembelajaran merupakan aktivitas subversive.
Tentunya hal ini tidak terjadi manakala permainan diijeksikan sebagai metode pembelajaran. Dengan penerapan itu, maka pernyataan pendidikan sebagai penindasan, atau pembelajaran sebagai aktivitas subversi akan tereduksi.
Beberapa pakar psikologi berpendapat bahwa kegiatan bermain dapat menjadi sarana untuk perkembangan anak. Dengan melakukan permainan serta merta akan melatih fisiknya. Demikian juga akan terjadi pada kemampuan kognisinya..


MANUSIA ADALAH MAKHLUK BERMAIN
Pada hakikatnya dalam diri manusia tersimpan hasrat bermain yang tak terhingga kadarnya, oleh karenanya manusia tidak dapat dilepaskan dari masalah bermain. Misalnya kebutuhan akan berkumpul, berkelompok, bersinergi ataupun bersosialisasi, rasanya tidak dapat meninggalkan masalah bermain. Hampir tidak ada perbedaan dari jenjang usia, apakah itu orang dewasa, atau pun anak-anak. Dengan bermain, anak-anak akan mendapatkan berbagai pengalaman, melalui permainan anak-anak juga akan dapat mengekplorasi alam sekitarnya. Sementara orang dewasa membutuhkan daya relaksasi yang tinggi, karena berbagai hamparan permasalah hampir pasti datang dan jarang berhenti. Permainan adalah sarana yang mampu menyapu, dan menjadi solusi tetap dan tepat, karena permainan akan mengambil peran mediasi sekaligus mereduksi.


PENDAPAT PAKAR TENTANG PERMAINAN
  • Sederet Ahli Filsafat seperti Plato, Aristoteles, kemudian beberapa Ahli Pendidikan seperti Comenius, Rouseau, Pestalozi, Froebel, al-Ghazali, Avecenna [Ibnu Sina], dan Ibnu Khaldun menekankan betapa pentingnya permainan bagi seorang anak. Bagi mereka, bermain dipandang sebagai kegiatan alamiah, dalam memperoleh pengetahuan, pengalaman, alat menemukan kreativitas, serta sarana untuk mengembangkan kecerdasan.
  • Montenssori [1961], menggambarkan jika ketika anak bermain, dan berada dalam situasi keserasian, akan merekonstruksi sebuah kreativitas.
  • Zakiyah Derajat [1976], permainan mempunyai peranan penting dalam dalam pembinaan pribadi anak
  • Joan Freman dan Utami Menandar [1995], menyebutkan bahwa pada umumnya bermain merupakan suatu aktivitas yang membantu anak mencapai perkembangan yang utuh, baik fisik,intelektual, sosial, moral, dan emosional.
  • Hughes [199], suatu kegiatan bermain harus memiliki lima syarat yakni:
  1. Mempunyai tujuan, yaitu permainan itu sendiri untuk mendapatkan kepuasan
  2. Memilih dengan bebas dan atas kehendak sendiri, tidak ada paksaan
  3. Menyenangkan dan dapat dinikmati
  4. Mengkhayal untuk mengembangkan imajinasi dan kreativitas
  5. Melakukan secara aktif dan sadar
  • Frank dan Theresia Caplan, enam belas hakikat bermain
  1. Membantu pertumbuhan anak
  2. Merupakan kegiatan yang dilakukan secara sukarela
  3. Memberikan kebebasan anak untuk bertindak
  4. Memberikan dunia khayal yang disukai anak
  5. Mempunyai unsur berpetualang di dalamnya
  6. Meletakkan dasar pengembangan bahasa
  7. Mempunyai pengaruh yang unik dalam pembentukan hubungan antar pribadi.
  8. Memberikan kesempatan untuk menguasai diri secara fisik
  9. Memperluas minat dan pemusatan perhatian
  10. Merupakan cara untuk menyelidiki sesuatu
  11. Merupakan cara anak memepelajari peran orang dewasa
  12. Merupakan cara dinamis untuk belajar
  13. Menjernihkan pemikiran anak
  14. Dapat distruktur secara akademis
  15. Merupakan sesuatu yang esensial bagi kelestarian hidup
  16. Merupakan kekuatan hidup
  • MENGAPA PEMBELAJARAN PERLU RAGAM PERMAINAN

  • Ketika permainan menjadi wahana pembelajaran,
    menjadikan seorang pembelajar bukanlah hal yang sulit,. Karena dalam bermain terdapat unsur imajinasi dan kreasi. Disamping itu pula permainan memiliki kemampuan untuk mestimuli orang untuk berani. Permainan akan melepaskan simbol-simbol diri, dan menjadi sebuah entitas baru.
    Selanjutnya alasan-alasan lain yang melatari perlunya permainan, adalah:

    • Pada umumnya manusia sangat senang mobilitas, dari pada duduk berdiam diri, bergerak dan dinamis itulah jatidirinya.

    • Manusia dewasa maupun anak-anak sangat membutuhkan pengalaman yang kaya, bervariasi, bermakna sekaligus mengasyikkan.

    • Otak usia anak-anak sangat senang dengan hadirnya sesuatu yang baru, menarik, menantang, dan menakjubkan

    • Permainan cenderung menstimuli otak, apalagi dengan melibatkan indra manusia secara seluruhan [visual, audio, dan kinetic]. Dalam permainan semuanya akan terlibat.

    • Pengulangan [repetitive] diperlukan dalam pembelajaran, namun nuansa acapkali membonceng kebosanan. Permainan akan menjadi jembatannya

    • Fetique [kelelahan] selalu muncul dalam situasi yang kurang menyenangkan, dengan permainan hambatan ini menjadi terkurangi.

    TUJUAN PERMAINAN:

    • Membangun konsep diri
    • Mengembangkan kreativitas
    • Mengembangkan komunikasi
    • Mengembangkan aspek fisk dan motorik
    • Mengembangkan aspek sosial
    • Mengembangkan aspek emosi dan kepribadian
    • Mengembangkan aspek kognisi
    • Mengasah ketajaman penginderaan
    • Mengembangkan ketrampilan tari dan olahraga

    KECERDASAN YANG MUNCUL DALAM PERMAINAN:

    • Linguistic intelligence [word smart];
    • Logical-mathematical intelligence [number/reasoning smart]
    • Spatial intelligence [picture smart]
    • Bodily-Kinesthetic intelligence [body smart]
    • Musical intelligence [music smart]
    • Interpersonal intelligence [people smart]
    • Interpersonal intelligence [self smart]
    • Naturalist intelligence [nature smart]

    MANFAAT BERMAIN MENURUT PAKAR:

    [Diambil dari buku “Cerdas dan Cemerlang”. Prof, Joan Freeman dan Prof Utami Munandar 1966]

    1. Sebagai penyalur energi berlebihan yang dimiliki anak. Anak memiliki energi berlebihan karena terbebas dari segala macam tekanan, baik tekanan ekonomis mampun sosial, sehingga ia menggungkapkan energinya dalam bermain. (Sciller & Spericer)
    2. Sebagai sarana untuk menyiapkan hidupnya kelak dewasa. Melalui bermain, seorang-orang anak menyiapkan diri untuk hidupnya kelak jika dewasa. Misalnya, dengan bermain peran secara tidak sadar ia menyiapkam diri untuk peran atau pekerjaannnya di masa depan [Karl Groos]
    3. Sebagai pelanjut citra kemanusiaan. Melalui bermain anak melewati tahap-tahap perkembangan yang sama dari pekerjaan sejarah umat manusia [Teori Rekapitulasi]. Kegiatan-kegiatan seperti lari, melempar, memanjat, dan melompat, merupakan bagian dari kehidupan sehari-hari generasi ke generasi [Stanley Hall]
    4. Untuk membangun energi yang hilang. Bermain merupakan medium untuk menyegarkan badan kembali [recovery] setelah bekerja selama berjam-jam [Lazarus]
    5. Untuk memperoleh kompensasi atas hal-hal yang tidak diperolehnya. Melalui kegiatan bermain, anak memuaskan keinginan-keinginannya yang terpendan atau tertekan.
    6. Bermain juga memungkinkan anak melepaskan perasaan-perasaan dan emosi-emosinya, yang dalam realitas tidak dapat diungkapkan [Mazhab Psikoanalisis].
    7. Memberi stimuli pada pembentukan kepribadian. Kepribadian terus berkembang dan untuk pertumbuhan yang normal, perlu ada rangsangan [stimuli], dan bermain memberikan stimulus ini untuk pertumbuhan [Appleton]


    FUNGSI PERMAINAN UNTUK MEMBENTUK KELOMPOK [TEAM BUILDING]

    Permainan sangat representative untuk membangun kekompakkan tim, kepemipinan, dan memecahkan permasalahan. Dengan permainan akan mengkodisi setiap individu untuk berempati terhadap orang lain, belajar bertanggungjawab dalam setiap tindakan, serta menerima perbedaan sebagai bentuk kekayaan kelompok. Dengan kekompakan kelompok dapat diberdayakan guna meningkatkan daya saing antar kelompok.

    FUNGSI PERMAINAN SEBAGAI PENYEGAR SUASANA [ENERGIZER]

    Perimanan dapat digunakan sebagai selingan ketika suasana sudah jenuh dan membosankan.Tak dapat dipungkiri bahwa suasana yang penuh relaksasi akan mengembalikan sikap mental yang telah mengendor, kembali bersemangat.. Kunci keberhasilan sebuah pembelajaran, pelatihan, semiloka atau sejenisnya, bila permainan penyegar suasana telah disiapkan


    FUNGSI PERMAINAN SEBAGAI PEMECAH KEBEKUAN [ICE BREAKER]
    Sering kali muncul suasana beku ketika dalam kegiatan yang membutuhkan konsentrasi besar, seperti kegiatan belajar, pelatihan, atau perkenalan anggota baru. Hal ini dapat disebabkan karena keteganggan. Bahkan “bab mood” dapat juga bisa merusak suasana yang pada awalnya kondusif. Permainan harus

    Wednesday, March 12, 2008

    CATATAN RINGKAS PEMBELAJARAN USIA DINI


    Menurut :Carolyn Triyon & Jw Lilienthal
    • Berkembang menjadi pribadi yang mandiri
    • Belajar memberi, berbagi dan memperoleh kasih sayang
    • Belajar bergaul
    • Mengembangkan pengendalian diri
    • Belajar bermacam-macam peran dalam masyarakat.
    • Belajar mengenal tubuh
    • Mengenal lingkungan fisik dan mengendalikannya
    • Menguasai kata-kata baru
    • Mengambangkan perasaan positif

    APA ITU DIKDAKTIK
    Johan Amos Comenius seorang orang yang
    dilahirkan di Cekoslowakia [1657], menyusun ilmu tentang mendidik dalam bahasa latin Didactica Magna yang artinya “ilmu mengajar
    Didaskoo: ARTINYA “SAYA MENGAJAR”

    Azas mendidik:
    Agar seorang guru ataupun calon guru
    dapat mengajar dengan baik,
    dan dapat dipertanggung jawabkan
    Secara didaktik dan metodik
    Harus disandarkan pada azas mendidik

    9 AZAS:
    • Azas perhatian terpusat
    • Azas aktivitas
    • Azas apersepsi
    • Azas peragaan
    • Azas pengulangan
    • Azas korelasi/integrasi
    • Azas invidualisasi
    • Azas sosialisasi
    • Azas evaluasi

    Kaitan PKB dengan Metode
    Cara kerja yang teratur dan sistematis untuk melaksanakan suatu kegiatan sehingga dapat mencapai suatu tujuan

    PERINGATN KETIKA MEMILIH METODE:

    Setiap metode memiliki bergai jenis dan fungsi
    • Tingkat kematangan anak yang bervariasi
    • Lingkungan anak yang agak berbeda
    • Fasilitas yang berbeda
    • Pribadi dan kemampuan profesi yang berbeda
    JENIS METODE:
    • Informatif
    • Partisipatif
    • Partisipasi Eksperensial
    • Eksperensial
    • Evaluasi
    Informatif:
    Metode ini digunakan menyampaikan informasi yang bersifat monolog dan satu arah [one way traffic]
    • Metode ceramah [lecture method]
    • Bacaan terarah [directed reading]
    • Diskusi panel [panel discussion]
    • Simposium [symposium]
    • Bercerita [story telling]
    Partisipatif:
    Metode ini digunakan menyampaikan materi melalui pendekatan partisipatif dengan melibatkan para peserta
    • Pernyataan [Statement]
    • Pengumpulan gagasan [Brainstorming]
    • Audio visual
    • Diskusi kelompok [group discussion]
    • Bercakap-cakap [buzz group]
    • Forum
    Gunakan:
    • Kuiz [quiz]
    • Studi kasus [case study]
    • Peristiwa [accident]
    • Peragaan peran [role play]
    Partisipati Eksperensial
    Metode ini digunakan menyampaikan materi melalui pendekatan partisipatif sekaligus ekperensial
    • Pertemuan [meeting]
    • Latihan simulasi [simulation exercise]
    • Demonstrasi [demonstration]
    Eksperensial:
    Metode yang memberikan kemungkinan kepada siswa untuk belajar melalui pengalaman langsung/nyata
    • Ungkapan kreatif [creative expression]
    • Belajar berjalan buta[blind walk]
    • Lokakarya [workshop]
    Gunakan:
    • Penugasan [Assigment in installment]
    • Kunjungan lapangan [field visit]
    • Kerja proyek [project work]
    • Tinggal di tempat [field placement]
    Evaluasi:
    Digunakan untuk mengevaluasi antara tujuan diharapkan dan yang dicapai
    [Usia dini tak kenal ujian tulis]

    METODE UNTUK USIA TK & KELOMPOK BERMAIN:
    • Bercerita
    • Bercakap-cakap
    • Diskusi
    • Tanya jawab
    • Mengucap syair
    • Dramatisasi
    • Pemberian tugas
    • Praktik langsung
    • Demonstrasi dan percobaan
    • pantomin
    • Bermain
    • Proyek/kerja kelompok
    • Gerak lagu
    • Senam
    • Menari
    • Permainan musik
    • Aktraktif

    Tuesday, March 11, 2008

    PROGRAM KEGIATAN BELAJAR TAMAN KANAK-KANAK

    Program Kegiatan Belajar [PKB], merupakan bintang pengarah agar suatu yang menjadi tujuan pembelajaran akan mencapai nilai EER- Efektif Efisien dan Rasional. Oleh keran setiap Guru harus memahami secara mendalam, serta selalu mencarai wacana cerdas dalam melakukan inovasi yang memilki daya suai.
    Depo kali ini menyediakan terminologi ringkas, terkait PKB. Depo menyediakan pula bahan tayang yang dapat digunakan dalam diskusi antar sejawat. Silahkan klik. „PKB
    PENGERTIAN
    Seperangkat pedoman kegiatan belajar yang direncanakan untuk dapat dilaksanakan dalam rangka menyiapkan/ meletakkan dasar-dasar pendidikan bagi pengembangan pembentukan perilaku dan pengembangan pembentukan perilaku kemampuan dasar yang disesuaikan dengan tahap perkembangan anak
    FUNGSI:
    Mengembangkan seluruh kemampuan yang dimilki anak usia 4-6 tahun dengan tahap perkembangannya
    Memperkenalkan anak pada lingkungan di luar rumahnya agar dapat menyesuaiakan diri dengan dunia sekitarnya
    Mengembangkan sosialisasi anak, agar dapat bergaul dengan teman sebaya orang dewasa lain selain orang tuanya serta orang-orang lain di luar rumahnya.
    Mengenalkan peraturan dan menanamkan disiplin pada anak. Hal ini diperlukan anak agar dapat hidup secara sehat, baik sehat lahir maupun batin dan sesuai dengan norma-norma yang baik di masyarakat.
    Memberikan kesempatan kepada anak untuk menikmati masa bermainnya dengan memberikan bentuk kegiatan belajar yang sesuai dengan dunia anak. Yaitu bermain, maka belajar tidak terasa beban bagi anak. Hal ini akan menimbulkan kegembiraan dalam belajar untuk jenjang sekolah berikutnya

    TUJUAN UMUM:
    Membentuk manusia Pancasila sejati, yang bertaqwa kepada Tuhan YME, yang cakap, sehat dan terampil, serta bertanggung jawab terhadap Tuhan, masyarakat dan negara
    TUJUAN KHUSUS:

    • Memberikan kesempatan kepada anak untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan jasmaniah dan rokhaniahnya dan mengembangkan potensi-potensi yang ada padanya secara optimal, sebagai individu yang khas

    • Memberi bimbingan yang seksama agar anak memiliki sifat-sifat dan kebiasaan-kebiasaan yang baik, sehingga diterima masyarakatnya

    • Mencapai kematangan mental dan fisik yang dibutuhkannya untuk dapat melanjutkan pelajaran di SD

    HAKIKAT TK[menurut kurikulum TK 68]



    • Mengembangkan semua aspek-aspek perkembangan dan pertumbuhan anak, sebagai individu yang khas

    • Memupuk sifat-sifat dan kebiasaan-kebiasaan yang baik seperti yang dimiliki orang dewasa yang dicita-citakan

    • Memupuk kemampuan-kemampuan dasar yang diperlukan untuk belajar lebih lanjut.

    DASAR KURIKULUM:


    Dasar filosofis
    Dasar psikologis
    Dasar sosiologis
    Dasar organisatoris

    DASAR FILOSOFIS
    Pancasila ditanamkan dengan cara dan bahan kegiatan sesuai dengan usia anak.
    DASAR PSIKOLOGIS
    Anak TK merupakan anak yang paling muda usianya dan mereka adalah anak yang peka terhadap kesan-kesan [pengalaman-pengalaman] dari lingkungannya baik pengalaman yang disadarinya atau tidak. Tekanan pada kejiwaan anak akan menimbulkan kerugian yang dapat dialami dalam hidupnya

    DASAR SOSIOLOGIS:
    Memupuk sifat-sifat kebiasaan baik yang ada di masyarakat. oleh karenannya kegiatan


    serta bahan kegiatan ditujukan untuk pengenalan alam sekitarnya dan pemupukan cinta kasih terhadap alam, dimulai dari lingkungan terdekat sampai kepada lingkungan yang lebih jauh
    DASAR ORGANISATORIS


    Bahan kegiatan disampaikan dalam kesatuan yang bulat, antara bahan satu dengan yang lain berhubungan
    Penentuan bahan kegiatan sesuai dengan minat dan kebutuhan anak
    Penyajian kegiatan diusahakan agar seluruh aspek perkembangan anak mendapat rangsangan untuk berkembang

    GARIS BESAR KEGIATAN 1968
    Bidang Penerapan Pancasila
    Bidang pendidikan bahasa
    Bidang Alam sekitar
    Bidang Pendidikan jasmani
    Bidang ungkapan kreatif/kesenian
    Sosial medis
    Bidang pendidikan skolastik

    HAKIKAT:



    • Pusat perkembangan kepribadian anak [ Child development centre]

    • Pusat kesejahteraan anak [Child welfare centre]

    • Serangkain usaha untuk membantu ibu [keluarga] memenuhi kebutuhan jasmani dan rokhani anak yang diperlukan bagi perkembangan kepribadiannya.

    • Memberikan pembinaan kesejahteraan anak yang diperlukan anak dalam masa mudanya untuk mencegah timbulnya akibat yang negatif dikemudian hari

    • Memberikan pendidikan pendahuluan untuk mempersiapkan anak mencapai kematangan dalam bentuk kesiapan fisik, sosial dan mental untuk dapat mengikuti pelajaran di SD kelak

    PRINSIP YANG MELATARI
    Prinsip fleksibiitas
    Prinsip efektifitas dan effesiensi
    Prinsip berorientasi pada tujuan
    Prinsip komunikasi
    Prinsip pendidikan seumur hidup
    Prinsip kontinuitas
    Prinsip Pendidikan semur hidup

    KURIKULUM 1984
    Alasan yang melatari lahirnya kurikulum:
    Perlunya penilaian kembali dan perbaikan kurikulum secara menyeluruh melalui pendekatan pengembangan pada pilihan kemampuan dasar harus dimiliki siswa, penyatuan ranah kognitif, afektif dan psikomotorik serta penyesuaian antara tujuan dan program dengan perkembangan masyarakat pembangunan, ilmu dan teknologi

    KOMPONEN PROGRAM KEGIATAN BELAJAR 1994
    Program kegiatan belajar dalam rangka pembentukan perilaku melalui pembiasaan yang terwujud dalam kegiatan sehari-hari di TK, yang meliputi Moral Pancasila, Agama, Disiplin, Perasaan/emosi, dan Kemampuan bermasyarakat
    Program kegiatan belajar dalam rangka pengembangan kemampuan dasar melalui kegiatan yang dipersiapkan oleh guru yang meliputi kemampuan berbahasa, daya pikir, daya cipta , ketrampilan dan asmani
    KARAKTER PKB:
    Perkembangan secara simultan



    • Integrasi

    • Emergence

    • Responsif

    • Bermain sambil belajar

    • Prinsip perkembangan

    • Penilaian bermakna

    INTEGRASI:
    • Kegiatan belajar direncanakan dan dilaksanakan dalam bentuk kesatuan yang utuh.
    EMERGENCE:
    • Program mempertimbangkan hal-hal yang sifatnya kontekstual, seperti peristiwa penting atau kejadian tiba-tiba [insidentil]
    RESPONSIF
    Program harus tanggap atau merespon terhadap hal-hal yang sangat berarti [bermakna]
    BERMAIN SAMBIL BELAJAR:
    Kegiatan bermain dijadikan media pembelajaran,. Kemampuan-kemampuan yang diharapkan dapat dicapai oleh anak dilakukan dalam kegiatan atau konteks bermain.
    PRINSIP PEMGEMBANGAN
    Perkembangan anak dicapai karena adanya kematangan [maturation] dan belajar. Perkembangan anak masing-masing berbeda implikasinya dalam bentuk pelayanan individual
    PENILIAN BERMAKNA:
    Penilaian harus memiliki arti bagi anak, orang tua, guru dan[ihak lain yang berkepentingan [stakeholder]

    Monday, March 10, 2008

    INDIKATOR ANAK BERBAKAT:



    • CIRI MOTIVASI:
      n Tekun menghadapi tugas
      n Ulet menghadapi kesulitan
      n Tak memerlukan dorongan eksternal
      n Ingin mendalam bahan/bidang pengetahuan
      n Menunjukkan minat terhadap macam-macam
      CIRI KREATIVITAS:
      n Dorongan ingin tahu besar
      n Sering membuat pertanyaan yg bagus/gagasan bagus
      n Menonjol dalam bidang seni
      n Senang keindahan
      n Bebas bila menyatakan pendapat
      n Daya imaginasi kuat
      n Rasa humor tinggi
      n Senang mencoba hal-hal yang baru
      n Keaslian[orsinalitas] tinggi
      n Kemampuan mengembangkan atau memerinci gagasan [elaborasi]
      n Tidak mudah dipengaruhi orang lain

      CIRI INTELEKTUAL:
      n Perbendaharaan kata luas
      n Ingatan baik
      n Penalaran tajam [berpikir logis-kritis, memahami hubungan sebab akibat]
      n Ungkapan diri lancar
      n Pengamat yang cermat
      n Daya abstraksi tinggi
      CIPTAKAN ANAK BERBAKAT
      Ø ROLE MODEL
      Ø MUTUAL RESPECT

      Role Model:
      n Menghargai dan menerima diri
      n Mengembangkan minat dan kekuatan
      n Menghargai upaya yang dilakukan anak
      n Selalu mempunyai pandangan positif
      n Menyuburkan rasa humor
      Mutual Respect:
      n Tunjukkan cinta dan penghargaan
      n Hargai keunikkan anak
      n Dukung minat anak
      n Bantu anak untuk kontrol diri
      n Ajak anak supaya jangan takut melakukan kesalahan
      n Tunjukkan bahwa kita respek

      9 CARA KEMBANGKAN POLA ASUH OTORITATIF :
    • Menciptakan lingkungan belajar yang bebas stres
    • Dukungan fasilitas yang memberi banyak pilihan dalam mencipta
    • Menerima ide “ajaib”
    • Mendorong penggunaan solusi kreatif
    • Beri waktu cukup
    • Beri stimulan kongkret
    • Waspadai penghambat kreativitas
    • Mendorong penggunaan solusi kreatif
    • Beri aneka pandangan kedepankan proses, bukan produkWaspadai penghambat kreativitas

    JIKA ANAK FRUSTRASI:

    • Pahami Gejala Awal
    • Anjurkan istirahat
    • Amati hal yang menenangkan dan memicu kemarahan
    • Buat peraturan

    7 Kebutuhan:

    • dihargai
    • rasa aman
    • diterima
    • dicintai dan mencintai
    • disiplin
    • kehidupan spiritual
      dipuji

    PENDIDIKAN PRESEKOLAH DAN TERMINOLOGINYA:


    Ada kecenderungan yang salah, namun saat ini menjadi berkembang dan terlanjur pula menjadi proses pembenaran. Kenderungan salah itu, menganggap bahwa Prasekolah sama dengan sekolah. Sebenarnya prasekolah adalah wilayah non sekolastik, sehingga anak-anak harus dibebaskan dari beban yang bertajuk sekolastik.
    Berikut berbagai kecenderungan yang terjadi di masyarakat
    • Mencari Taman kanak-kanak yang terdapat pelajaran bahasa asing
    • Taman kanak-kanak yang baik serinmg memberi PR pada anak didiknya.

    Inilah fenomena yang terjadi. Jika Taman Kanak-kanak tidak merepons kecenderungan ini justru berakibat gulung tikar. Tidak seorangpun menjatuhkan pilihannya pada Taman Kanak-kanak tersebut.
    Inilah pusaran hebat yang terjadi, sehingga pada usia dini anak-anak sering terbebani oleh masalah-masalah sekolastik. Anak anak tercerabut dari „alamnya“ , teralienasi dari „dunianya“, hanya menjadi boneka hidup dari nafsu orang tuanya.
    Saat tertentu anak usia dini dijadikan ukuran, dilombakan/diadu, untuk memenuhi keinginan orang tua. Inilah kesan Depo melihat fenomena yang terjadi, dan mencoba mengkabarkan terminologi terkait usia dini, dalam tajuk „PENDIDIKAN PRESEKOLAH DAN TERMINOLOGINYA“
    Menurut “The National Association For The Education of Young Children”
    o Early Childhood [anak masa awal]
    o Early Childhood Setting [tatanan masa awal sekolah]
    o Early Childhood Education [pendidikan awal masa anak-anak]
    ISTILAH LAIN PENDIDIKAN PRASEKOLAH
    o Nursery School
    o Preschool
    Menurut:
    UU Nomor. 2Tahun 1989 Sistem Pendidikan Nasional Pasal 12 Ayat 1
    o ……………………….”adalah pendidikan yang diselenggarakan untuk mengembangkan pribadi, pengetahuan, dan ketrampilan yang melandasi pendidikan dasar serta mengembangkan diri secara utuh sesuai dengan asas pendidikan sedini mungkin”
    UU Nomor 20 Tahun 2003 Sistem Pendidikan Nasional Pasal 28



    • Pendidikan usia dini diselengarakan sebelum jenjang pendidikan dasar (1)

    • Pendidikan anak usia dini dapat diselenggarakan melalui jalur pendidikan formal, non formal, dan/atau informal (2)

    • Pendidikan usia dini pada jalur pendidikan nonformal berbentuk Kelompok Bermain[KB], Taman Penitipan Anak [TPA],Raudatul Athfal[RA] atau bentuk lan yang sederajat (4)

    • Pendidikan anak usia dini pada jalur pendidikan informal berbentuk pendidikan keluarga atau pendidikan yang diselenggarakan oleh lingkungan (5)

    DEKLARASI PBB TENTANG HAK ANAK



    • Memperoleh kasih sayang

    • Mendapatkan gizi dan perawatan kesehatan

    • Mendapatkan kesempatan berbain dan berkreasi

    • Mempunyai nama dan kebangsaan

    • Mendapatkan perawatan khusus bila cacat

    • Belajar menjadi warga negara yang berharga

    • Hak untuk hidup dalam kedamaian dan persaudaraan

    Kurikulum TK...
    Seluruh usaha/kegiatan sekolah untuk merangsang anak supaya belajar, baik di dalam maupun diluar kelas anak tidak terbatas belajar dari apa yang diberikan di sekolah saja. Seluruh pengembangan aspek seseorang dijangkau dalam kurikulum ini, baik aspek fisik intelektual, sosial maupun emosional

    ALATERNATIH PROGRAM PRASEK:



    1. Day Care [penitipan anak]

    2. Head Start

    3. Hippy

    4. Kindergaten [Taman Kanak-kanak]

    Day Care
    Tempat penitipan anak , yakni sarana untuk mengasuh anak sementara orang tuanya bekerja
    Head Start
    Suatu program simulasi dini terhadap anak minoritas dan yang kurang mampu di Amerika Serikat , tujuannya adalah untuk memerangi kemiskinan
    The Home Instruction Programme for Pre School Younger
    Program dirancang untuk membantu anak prasekolah agar kelak menjadi anak yang lebih tanggung jawab, tanggap dan siap ke wilayah skolastik
    Proyecto Familia—Program pra sekolah yang dilakukan di Venesuela-
    Meningkatkan perkembangan kecerdasan sejak anak lahir sampai 6 tahun melalui program pendidikan informal yang diberikan kepada Ibu, selain itu dilakukan melalui media

    HAKIKAT TK:
    Taman kanak-kanak memberi kemungkinan kepada anak didiknya untuk mengembangkan seluruh aspek perkembangannya; memupuk sifat dan kebiasaan yang baik, menurut falsafah bangsa Indonesia; memupuk kemampuan dasar yang diperlukan untuk belajar pada kelas selanjutnya

    TUJUAN UMUM TK:
    Membentuk manusia Pancasila sejati, yang bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, yang cakap, sehat dan terampil, serta bertanggung jawab terhadap Tuhan, masyarakat dan negara
    TUJUAN KHUSU TK:



    • Memberi kesempatan untuk memenuhi kebutuhan fisik maupun psikologi serta mengembangkan potesinya secara optimal

    • Memberi bimbingan yang seksama agar memiliki kebiasaan yang baik untuk diterima masyarakat

    • Mencapai kematangan mental menuju ker Skolatik

    ANAK PRASEKOLAH BERMAIN:
    Bentuk Bermain:



    • Sosial

    • Dengan benda

    • Sosio dramatis

    Derajat Partisipasi Bermain



    • Soliter

    • onlooker

    • Pararel

    • Asosiatif

    • Kooperaif

    ASOSIATIF:
    Tahapan dalam kegiatan bermain di mana anak bermain bersama teman, tetapi tanpa adanya suatu organisasi
    SOSIO DRAMATIK:
    Model bermain bercirikan imitasi, pura-pura, menirukan gerakan, melakukan komunikasi verbal dimana sejumlah anak melakukan kegiatan bermain, dimana masing-masing /menerima peran yang diberikan kelompoknya [by design]
    PARAREL:
    Suatu tahapan dalam kegiatan bermain, di mana beberapa anak bermain dengan materi yang sama, tetapi masing-masing anak bekerja sendiri-sendiri
    SOLITER
    Tahapan bermain di mana anak tidak memperhatikan apa yang dilakukan anak yang bermain didekatnya
    PAIRED GROUP:
    Pengelmpokan secara berpasangan, di mana anak bekerja sama sejenak dengan anak lain, keduanya belajar bantu membantu
    AUTO EDUCATION:
    Kemampuan anak unuk mengorganisasikan pemikiran sendiri apabila dikaitkan dengan kegiatan tertentu
    OPENING GROUPING:
    Pengelompokan kegiatan belajar mengajar di TK berdasarkan minat
    Jika ingin bahan tayang Klik. "PRASEK"