Google

Sunday, September 14, 2008

BILA ANAK USIA DINI BERSEKOLAH

Anak usia dini ternyata juga dapat menyibukkan pikiran orang tua, apalagi ketika anak itu memasuki jenjang pra-sekolah. Setumpuk, bahkan segudang rayuan akan meluncur dari bibir sang orangtua agar anak mau bersekolah. Adakalanya mudah, namun adanya juga yang harus menuai kesulitan. Lebih sulit lagi jika anak kita sangat labil, artinya saat-saat tertentu anak-anak mogok.
Persoalan ini acapkali terjadi, dan setiap permulaan sekolah hampir dipastikan problema ini selalu muncul, seperti musiman.
Orangtua selalu memeras otak untuk masalah ini, kadangkala harus dibayar orang tua untuk cuti kerja, hanya untuk melancarkan rayuan agar anak mau masuk sekolah.
Kasus-kasus ini ternyata memberi perhatian khusus kepada seorang-orang Derry Iswindharmanjaya dengan kawan-kawannya untuk bersolusi, agar orang tua yang memiliki problem terkait kasus anak usia dini dapat diatasi. Solusi itu telah dibukukan, dan sangat dianjurkan untuk dimiliki pasangan keluarga muda, agar ketika mendapatkan problema anak akan cepat diatasi.
Data Buku :
JUDUL: Bila Anak Usia Dini Bersekolah
PENULIS: Derry Iswidharmanjaya,+ B. Sekarjati Svastiningrum
PENERBIT: PT Elex Media Komputindo—Kelompok Gramedia—Jakarta
ISBN: 978-979-27-2137-9
CETAKAN: I—2008
TEBAL: vii + 95
ISI BUKU :
  • Kesiapan Anak Usia Dini Untuk Memulai Pendidikan Formal
  • Faktor-Faktor yang Berpengaruh terhadap Kemandirian Anak Usia Dini
  • Kasus-Kasus yang Terjadi Saat Anak Usia Dini Memasuki Lingkungan Sekolah
  • Tip-Tip untuk meningkatkan Kemandirian Anak Usia Dini Menjelang Sekolah
  • Tiap menyiapkan Keyrampilan dan Mental Anak Usia Dini Sebelum Masuk Sekolah

Sadapan Ringkas:
[ORANG TUA ADALAH GURU PERTAMA]

Sebenarnya kesiapan dan kematangan seorang anak tergantung dari poa pendidikan dari rumah.
Orang tua adalah guru pertama untuk anak, sedangkan anak adalah pendidik terbaik bagi dirinya sendiri. Banyka orang tua khususnya di Indonesia yang berpikir bahwa anak-anaknya dapat mulai belajar ketika ia bersekolah. Karena itu, kebanyakan orang tua menyerahkan pendidikan sepenuhnya ada di tangan para pendidik di sekolah.
Pendpata tersebut tidaklah tepat sebaiknya diubnah, sebab hal itu akan berdampak buruk bagi perkembangan kecerdasan anak. Anda tidak perlu meunggu ketika Anda bersekolah untuk mengajarkan bersosialisasi, membaca atau berhitung. Dengan demikian ketika anak tersebut mulai bersekolah ia pun dapat menikmati tanpa rasa was-was.

RASA PERCAYA DIRI MENDONGKRAK KEMANDIRIAN:
Percaya diri adalah kepercayaan akan kemampuan sendiri yang memadai dan menyadari kemampuann yang dimili serta dapat dimanfaatkan secra tepat. Karena itu, percaya diri dapat dikatakan sebagai modal dasar untuk mengembangkan kemampuan diri
Sikap over protective orang tua adalah pola sikap yang menjegal kemandirian anak sehingga anak menjadi seorang yang kurang percaya diri. Karena itu, mulaialah untuk menaruh kepercayaan pada anak Anda bahwa ia bisa melakukannya.

MOGOK—SCHOOL PHOBIA

Bosan dengan rutinitas sekolah, takut karena ada teman sekelas yang suka menggangu, bisa karena ada PR yang tidak terkerjakan, bahkan ada juga yang tanpa alas an, dapat juga membuat mogok sekolah.
Sebenarnya kasus mogok sekolah yang menimpa anak usia dini bida diatasi. Peran serta orang tua sangatlah vital. Orang tua sebenarnya berperan serta untuk meyakinkan bahwa anaknya nyaman dan aman berada disekolah.
Ingat! Jika anak masih bersikukuh mogok sekolah bahkan sudah menyebakan gejala kronis, seperti deeman, diare, atau mungkin batuk-batuk, anak tersebut telahmengalami school phobis. Ini adalah masalah yang cukup berat kerena menyanghkut sisi kejiwaan anak. Bila nantinya anak telah sembuh dari gejala fisiknya, untuk sementara dampingilah anak tersebut ketika ia kembali sekolah, hingga ia merasa yakin bahwa dirinya benar-benar merasa nyaman.

Friday, September 5, 2008

HARI PERTAMAKU DI SEKOLAH

Pemandangan yang sudah biasa terjadi, jika hari pertama murid baru Taman Kanak-Kanak masuk, jumlah muridnya berlipat dua hingga tiga kali. Keadaan ini karena di hari pertama murid baru selalu diantar oleh orang tuanya, bahkan nenek atau kekek ikut larut disuasana ini. Jelasnya mereka sebagai siswa belum siap untuk ditinggalkan. Orang pun maklum atas kejadian ini, karena pertama kali masuk sekolah, seorang anak harus berkenalan dulu dengan lingkungan yang baru, dan hal ini tidak mudah.
Dikatikan dengan hakikat sekolah taman-kanak-kanak itu, sesungghynya untuk menciptakan kemandirian ke jenjang skolastik, maka pemberian pembelajaran kepada siswa untuk mandiri adalah bagian proses. Di sinilah perlunya kerjasama antara orang tua dan sekolah, sehingga kemandirin untuk bersekolah segera terwujud.
Solusi cerdas atas problematika ini telah dipecahkan oleh Ery Soekresno dengan kawan-kawan, dari hasii pengamatan dan praksisnya terlahirlah buku berjudul “Hari Pertamaku Di sekolah”
Buku ini berisikan kiat-kiat bagaimana orang tua melatih anaknya agar mandiri alias bisa ditinggalkan ketika proses belajar mengajar berlangsung.
Data Buku :
JUDUL: Hari Pertamaku Di sekolah
PENULIS : Ery Soekresno-Sumarti. M. Tahhir dan Setyorini Pardiyati
PENERBIT: Read! Publishing Hpuse [Kelompok Mizan]. Jl. Cinambo No. 137 Cisaranten Wetan Bandung. 40294. Telp. [022] 7834315. E-mail : readpublishinghouse@yahoo.com
CETAKAN: I—2006
ISBN: 979-2828-17-X
TEBAL: 96 hlm: 19 cm
Kata kunci untuk orang tua: [Dua langkah yang harus dilakukan]

  1. Belajar mengatasi ketakutan terhadap ketidaktahuan anak tentang sekolah
  2. Belajar mengatasi ketakutan yterhadap perpisahan dengan orang tua

MENGATASI PERISAHAAN
Ada beberapa tahapan yang akan membatu anak dalam mengatasi perpisahan di hari pertamanya masuk sekolah:



  1. Tenang
    Tampilakan perasaan senang. Tersenyum, dan berilah anak ucapan salam dengan percaya diri. Apa pun reaksi anak, tetaplah tersenyum. Jangan tampilkan wajah cemas dan ragu
  2. Jangan Meninggalkan Anak Diam-diam. Jelaskan kepada anak, bahwa Anda akan meninggalkannya dengan ibu guru di sekolah. Ingat jika akan pergi, beri isyarat. Jangan beri ciuman. Jangan lkembali ketika mendengar anak menangis
  3. Biarkan Menangis:
    Rasanya tidak logis untuk meminta anak berhenti menangis. Biarkan anak menangis itulah ekspresi mereka
  4. Kembalilah Dengan Senyum
    Ketika orang tua dating menyemput, anak yang tadinya tenang munghkin akan menangis. Dia akan berlari lalu memeluk orang tua, lalu minta digendong. Atau, bisa jadi mereka malah mengabaikan orangtuanya. Kedua respon tersebut normal. Yang terpenting, orangtua harus tetap tenang dan ceria.

Friday, July 11, 2008

TAMAN KANAK-KANAK SAJA MEMBUAT BUKU PEDOMAN

FUN & SMART” ITULAH JARGON PG DAN TK AL IMAN SURABAYA
Pentingnya pendidikan usia dini sudah dirasakan bangsa ini, semua sekarang mencermati, penelitian diarahkan ke ranah ini, seminar di gelar di wilayah ini, dan banyak anggaran di curahkan di domain ini. Akibat banyak bermunculan Play Group, Penitipan Anak, Sekolah Taman Kanak-Kanak yang lumayan mutunya tumbuh dan berkembang di Bumi Pertiwi. Namun yang harus menjadi perhatian adalah hakikat sesungguhnya, jangan terbuai dengan wujud fisik sarana dan prasarana, lebih dari itu perhatian harus dicurahkan inti pembelajarannya.
Depo bebarapa waktu yang lalu di undang untuk melakukan tour facility [mengujungi langsung sarana-dan prasarana] sebuah TK yang terletak di kawasan Kota Surabaya. Pada kesempatan itu Depo juga diminta memberikan pelatihan kepada Guru-guru TK itu. Menurut beberapa informasi TK ini merupakan TK percontohan, dan memilki model pembelajaran yang unique, yakni model “Class Mowing”. Dalam prosesnya, siswa tidak stasioner dalam kelas, namun cenderung dinamis, dengan kelas-kelas yang berubah-ubah atau berpindah-pindah, dari kelas satu ke kelas yang lain.
Tentunya bukan hanya keunik-an, namun dilandasi sebuah teori bahwa anak usia dini itu dalam masa “Usia-Emas” disinilah mereka diajak mengeksplorasi pengetahuan lewat kelas-kelas yang tidak membosankan. Kelas ini diberinama sentra, atau dinyatakan sebagai kelas yang memiliki thema-thema tertentu.
TK ini memiliki 8 sentra [kelas berthema], antara lain:
  1. Sentra Agama
  2. Sentra Sain
  3. Sentra Konstruksi
  4. Sentra Eksplorasi
  5. Sentra Musik dan Olah Tubuh
  6. Sentra Seni & Kreasi
  7. Dll.

Menariknya sekolah milik Yayasan Masjid Al-Iman ini, memiliki Buku Pedoman Program Kegiatan, layaknya Pedoman di Perguruan Tinggi. Melalui pedoman ini orang tua/wali murid akan dapat mengetahui lebih dini apa saja yang diajarkan dan manfaat apa saja yang akan didapatkan.
Dengan buku pedoman ini secara tidak langsung terbangun jembatan yang cantik, yang menguhubungkan komunikasi atau silaurakhmi antara sekolah dan orang tua wali.
Depo menyarankan kepada TK atau PG yang belum mengkreasi buku semacam ini dapat melakukan Benchmarking/studi banding atau lainnya, ke TK ini.
Alamat Kontak:
Yayasan Masjid Al-Iman. Lembaga Pendidikan Islam PG-TK AL-Iman. Jl.Sutorejo tengah X/4 Telp. 031-5981007 Surabaya. E-mail: al.imansby@gmail.com

Wednesday, June 18, 2008

KENALI “BULLYING “ atau KEKERASAN.

Bullying adalah kekerasan yang acapkali singgah di zone sekolah, jika hal ini tidak dicermati akan berdampak panjang pada psikologi anak. Kehadiran tanpa diundang, karena fenomena ini hadir bersama keunikan anak itu sendiri. Anak-anak sebagai individu memiliki kekhasan [personality trait], jika anak itu memiliki personalitas yang lemah cenderung dimanfaatkan oleh temanya yang memiliki tamperamen lebih. Jika hal ini terjadi di kisaran anak usia dini [prasekolah] akan, akan memberatkan tugas guru, karena di kisaran ini seharusnya, dilakukan upaya-upaya persiapan anak untuk memasuki sekolah.
Depo ini menemukan buku yang pantas untuk diketahui oleh siapa saja, yang terlanjur dianugerahi rasa cinta kepada anak. Depo merasa bahagia ketika menemukan buku ini, disamping perannya seperti sebuah universitas, sehingga seorang-orang yang telah membaca buku ini merasa langsung paham dan langsung mampu mengaplikasikan. Buku ini juga berperan seperti ensiklopedia, juga semacam buku panduan.
Detil Buku:
JUDUL : Bullying. Mengatasi Kekerasan di Sekolah dan Lingkungan Sekitar Anak
PENULIS: Ariobimo Nusantara
PENERBIT : PT Grasindo Jakarta.
ISBN: 978-979-025-107-6
CETAKAN : 2008
HALAMAN: IX + 125
[Buku ini buah pengabdian tak terhingga Yayasan Semai Jiwa Amini (Sejiwa)]

Apa itu Bullying?
Bullying adalah sebuah situasi di mana terjadinya penyalahgunaan kekuatan/kekuasaan yang dilakukan oleh seorang-orang atau kelompok. Pihak yang kuat di sini tidak hanya berarti kuat dalamukuran fisik, tetapi bisa juga kuat secara mental. Dalam hal ini sang korban bulyying tidak mampu membela atau mempertahankan dirinya karena lemah secara fisik dan atau mental.
Apa saja wujudnya?
Terdapat beberapa jenis dan wujud bullying, tetapi secara garis besar dikelompokkan menjadi tiga kategori:
  1. bullying fisik
  2. bullying non fisik
  3. bullying mental/piskologis

Ciri Bullying Fisik:

  • menampar
  • menimpuk
  • menginjak kaki
  • menjegal
  • meludahi
  • memalak
  • melempar dengan barang
  • menghukum dengan berlari keliling lapangan
  • menghukum dengan casa push-up [fisik]
  • menolak

Ciri Bullying Verbal:

  • memaki
  • menghina
  • menjuluki
  • meneriaki
  • mempermalukan di depan umum
  • menuduh
  • menyoraki
  • menebar gosip
  • memfitnah
  • menolak

Ciri Bullying Mental:

  • memandang sinis
  • memandang penuh ancaman
  • mempermalukan di depan umum
  • mendiamkan
  • mengucilkan
  • mempermalukan
  • meneror lewat HP, SMS, E-mail dll
  • memandang yang merendahkan
  • memlototi
  • mencibir

Bullying sebagai faktor penghambat:
Bullying adalah penghambat besar bagi seorang-orang untuk mengatualisasi diri. Bullying tidak memberi rasa aman dan nyaman, membuat para korban bullying mersa takut dan terintimidasi, rendah diri serta tak berharga, sulit konsentrasi dalam belajar, tidak bergerak untuk bersosialisasi dengan lingkunganya, enggan bersekolah, pribadi yang tak percaya diri dan sulit berkomunikasi, sulit berpikir jernih sehingga prestasi akademisnya dapat terancam.

Mengapa anak itu menjadi bully.

  • Karena mereka pernah menjadi korban bullying
  • ingin menujukkan eksistensi diri
  • ingin diakui
  • pengaruh tayangan TV yang negatif
  • senoiritas
  • iri hati
  • menutup kekurangan diri
  • mencari perhatian
  • balas dendam
  • iseng
  • sering mendapat perlakukan kasar di ramah tangga dan dari teman-teman
  • ingin terkenal
  • ikut-ikutan


Ciri yang biasa dijadikan korban:

  • isik lemah/kecil
  • berpenampilan lain
  • sulit gaul
  • siswa yang rendah diri
  • anak yang canggung
  • anak yang memiliki aksen bicara yang berbeda
  • anak yang dianggap menyebalkan
  • anak yang cantik/ganteng atau sebaliknya
  • anak orang kaya atau sebaliknya
  • anak yang gagap
  • anak yang dianggap sering argumentasi terhadap bully

[Wusana kata: Guru atau orang tua harus mengenali, masalah ini dan mengambil peran mendekat kepada bully. Dengan terpaksa tidak dapat diposting secara lengkap, karena akan mencundangai hakl penerbit. Buku ini sangat pantas dimilki oleh guru-guru prasekolah/ guru TK]

Tuesday, May 27, 2008

BUKU PENDUKUNG BERMAIN SAMBIL BELAJAR DENGAN "AROMA" KE-ISLAMAN

Ketika Depo memberikan prasaran pada Seminar Nasional yang di selenggarakan oleh sebuah Yayasan yang bergerak di bidang Pengembangan Sumber Daya Manusia-- [Yayasan "TARGET JAWA TIMUR"]. Seminar itu membicarakan tentang "Permainan dan Pembelajaran" . Ketika pada sesi tanya jawab, terdapat beberapa partisipan yang ingin mengetahui lebih dekat hal ikhwal terkait dengan metode yang tepat untuk diterapkan di sekolah Islam, maksudnya adalah sekolah yang diselenggarakan oleh oraganisasi Islam. Tentunya pertanyaan itu yang ada sangkut pautnya dengan materi pembelajaran, startegi dan proses pembelajarannya. Penanya saat itu meragukan apakah lazim mengajarkan materi Agama kok melalui permainan. Keraguan tersebut haruslah dimaklumi, karena popularitas "permainan" untuk pengajaran yang terkait dengan citarasa KeIslaman bulum dapat dirasakan dan terpasarkan.
Depo ingin mengurai kegelisahan itu, untuk sementara hanya kami informasikan buku-buku yang dapat membantu memecahkan kegelisahan tersebut buku itu adalah:

Buku ini berisi sebanyak 40 model latihan dalam bentuk permainan, kecenderungan menggambarkan bagaimana membangun suatu pola sikap kebersamaan diantara para peserta. Kreativitas masih dikedepankan sehingga memenuhi sasaran. Kreativitas yang dimaksud adalah bentuk adaptasi dengan setting lingkungan sebenarnya.




JANGAN RAGU MENGGUNAKAN PERMAINAN, BERIKUT DAYA DUKUNG YANG MEYAKINKAN:

[I]
Dan tiadalah kehidupan dunia ini selain dari main-main dan senda gurau belaka. Dan sungguh kampung akhirat itu lebih baik bagi orang-orang yang bertakwa. Maka tidaklah kamu memahaminya? [Q.S. Al An'am, 6:32]
[II]
Maka apakah kamu mengira bahwa sesungguhnya Kami menciptakan kamu secara main-main dan bahwa kamu tidak akan dikembalikan kepada Kami? [Q.S. Al Mukminum, 23:115]
[III]
Dan tidaklah Kami ciptakan langit dan bumi dan segala yang ada di antara keduanya dengan bermain-main [Q.S. Al Anbiya, 21:16]
[IV]
Dan Kami tidak menciptakan langit dan bumi dan apa yang ada antara kedauannya dengan

bermain-main [Q.S. Ad Dukhan, 44:38]

BUKU INI MEMBERI DUKUNGAN PARA GURU/PELATIH DALAM MELAKUKAN KEGIATAN OUTDOOR.

BUKU PENDUKUNG LAIN:

JUDUL : GAmes For Islamic Mentoring

PENULIS : Muhamas Ruswandi [Tim ILNA Learning Centre]

PENERBIT: PT. Syaamil Cipta Media Bandung

ISBN : 979-3529-92-4

HALAMAN : xiv, 92, 23,5 Cm.

Isi buku ini terdiri atas empat bagian, yaitu sebagai berikut:

  1. Bagian Dasar-dasar Keislaman.
  2. Bagian Pengembangan diri
  3. Bagian Dakwah dan Pemikiran Islam
  4. Bagian Sosial Kemasyarakatan

Kekuatan buku ini, disetting untuk pembelajaran yang efektif, oleh karena itu setiap bab terdiri atas enam bagian umum, yaitu:

  • judul;
  • tujuan;
  • langkah-langkah;
  • pertanyaan hikmah;
  • alat dan bahan
  • waktu;

WARNING BUKU:

Buku ini juga memberikan periingatan kepada mentee/pelatih/pemandu, utamanya terkait dengan penggunaan games yang salah. Terdapat beberapa kesalahan ataupun kesulitan dalam penggunaan games mentoring. Mentor/pelatih/pemandu yang tidak berpengalaman, merasa tidak aman, dan tanpa persiapan akan menggunkan games untuk membuang-buang waktu. Kesalahan berikutnya adalah, Games yang seharusnya fokus pada proses belajar, terselewengkan dengan dominasi kelucuan dan humor sehingga mengalihkan perhatian dari tujuan program secara keseluruhan.

PERMAINAN DALAM PEMBELAJARAN



PENGANTAR:
Kita sadar bahwa bermain adalah sebuah dunia yang penuh keragaman dan menyenangkan, barangkali lebih tepat bila dinyatakan “mengasyikkan”.
Siapa saja yang terlibat akan merasa terhibur dan senang, bahkan akan menjadi sebuah energi potensial yang tak tertandingi.
Terminologi bermain, melekat pada realitasnya, artinya seorang-orang akan merasakannya ketika melakukan. Hampir setiap orang dapat dipastikan paham akan makna bermain, tanpa harus mencari ensiklopedi, orang jadi mengerti. Hal ini dikarenakan bermain itu adalah bagian hidup dari manusia.
Bermain merupakan aktivitas yang menyenangkan, oleh karenanya harus difungsikan dengan optimal, serta dimanfaatkan untuk berbagai tujuan
Proses pembelajaran seharusnya, memainkan fungsi-fungsi permainan, karena tujuan membelajarkan seorang orang akan tercapai manakala berada pada kondisi yang menyenangkan. Beberapa fenomena menunjukkan kepada kita, yakni munculnya sinyalemen negative kepada dunia pendidikan. Selanjutnya fenomena itu menjadikan seorang Paulo Fraire menorehkan potret empirinya, ke dalam buku “Pendidikan yang Menindas” [Pedagogy oppressed]. Fenomena itu terkesan dan mengesankan bahwa pendidikan seperti memenjara siswa. Oleh karenanya anak perlu dibebaskan, demikian kata Ivan Illich. Bahkan Nail Postman mengatakan bahwa pembelajaran merupakan aktivitas subversive.
Tentunya hal ini tidak terjadi manakala permainan diijeksikan sebagai metode pembelajaran. Dengan penerapan itu, maka pernyataan pendidikan sebagai penindasan, atau pembelajaran sebagai aktivitas subversi akan tereduksi.
Beberapa pakar psikologi berpendapat bahwa kegiatan bermain dapat menjadi sarana untuk perkembangan anak. Dengan melakukan permainan serta merta akan melatih fisiknya. Demikian juga akan terjadi pada kemampuan kognisinya..


MANUSIA ADALAH MAKHLUK BERMAIN
Pada hakikatnya dalam diri manusia tersimpan hasrat bermain yang tak terhingga kadarnya, oleh karenanya manusia tidak dapat dilepaskan dari masalah bermain. Misalnya kebutuhan akan berkumpul, berkelompok, bersinergi ataupun bersosialisasi, rasanya tidak dapat meninggalkan masalah bermain. Hampir tidak ada perbedaan dari jenjang usia, apakah itu orang dewasa, atau pun anak-anak. Dengan bermain, anak-anak akan mendapatkan berbagai pengalaman, melalui permainan anak-anak juga akan dapat mengekplorasi alam sekitarnya. Sementara orang dewasa membutuhkan daya relaksasi yang tinggi, karena berbagai hamparan permasalah hampir pasti datang dan jarang berhenti. Permainan adalah sarana yang mampu menyapu, dan menjadi solusi tetap dan tepat, karena permainan akan mengambil peran mediasi sekaligus mereduksi.


PENDAPAT PAKAR TENTANG PERMAINAN
  • Sederet Ahli Filsafat seperti Plato, Aristoteles, kemudian beberapa Ahli Pendidikan seperti Comenius, Rouseau, Pestalozi, Froebel, al-Ghazali, Avecenna [Ibnu Sina], dan Ibnu Khaldun menekankan betapa pentingnya permainan bagi seorang anak. Bagi mereka, bermain dipandang sebagai kegiatan alamiah, dalam memperoleh pengetahuan, pengalaman, alat menemukan kreativitas, serta sarana untuk mengembangkan kecerdasan.
  • Montenssori [1961], menggambarkan jika ketika anak bermain, dan berada dalam situasi keserasian, akan merekonstruksi sebuah kreativitas.
  • Zakiyah Derajat [1976], permainan mempunyai peranan penting dalam dalam pembinaan pribadi anak
  • Joan Freman dan Utami Menandar [1995], menyebutkan bahwa pada umumnya bermain merupakan suatu aktivitas yang membantu anak mencapai perkembangan yang utuh, baik fisik,intelektual, sosial, moral, dan emosional.
  • Hughes [199], suatu kegiatan bermain harus memiliki lima syarat yakni:
  1. Mempunyai tujuan, yaitu permainan itu sendiri untuk mendapatkan kepuasan
  2. Memilih dengan bebas dan atas kehendak sendiri, tidak ada paksaan
  3. Menyenangkan dan dapat dinikmati
  4. Mengkhayal untuk mengembangkan imajinasi dan kreativitas
  5. Melakukan secara aktif dan sadar
  • Frank dan Theresia Caplan, enam belas hakikat bermain
  1. Membantu pertumbuhan anak
  2. Merupakan kegiatan yang dilakukan secara sukarela
  3. Memberikan kebebasan anak untuk bertindak
  4. Memberikan dunia khayal yang disukai anak
  5. Mempunyai unsur berpetualang di dalamnya
  6. Meletakkan dasar pengembangan bahasa
  7. Mempunyai pengaruh yang unik dalam pembentukan hubungan antar pribadi.
  8. Memberikan kesempatan untuk menguasai diri secara fisik
  9. Memperluas minat dan pemusatan perhatian
  10. Merupakan cara untuk menyelidiki sesuatu
  11. Merupakan cara anak memepelajari peran orang dewasa
  12. Merupakan cara dinamis untuk belajar
  13. Menjernihkan pemikiran anak
  14. Dapat distruktur secara akademis
  15. Merupakan sesuatu yang esensial bagi kelestarian hidup
  16. Merupakan kekuatan hidup
  • MENGAPA PEMBELAJARAN PERLU RAGAM PERMAINAN

  • Ketika permainan menjadi wahana pembelajaran,
    menjadikan seorang pembelajar bukanlah hal yang sulit,. Karena dalam bermain terdapat unsur imajinasi dan kreasi. Disamping itu pula permainan memiliki kemampuan untuk mestimuli orang untuk berani. Permainan akan melepaskan simbol-simbol diri, dan menjadi sebuah entitas baru.
    Selanjutnya alasan-alasan lain yang melatari perlunya permainan, adalah:

    • Pada umumnya manusia sangat senang mobilitas, dari pada duduk berdiam diri, bergerak dan dinamis itulah jatidirinya.

    • Manusia dewasa maupun anak-anak sangat membutuhkan pengalaman yang kaya, bervariasi, bermakna sekaligus mengasyikkan.

    • Otak usia anak-anak sangat senang dengan hadirnya sesuatu yang baru, menarik, menantang, dan menakjubkan

    • Permainan cenderung menstimuli otak, apalagi dengan melibatkan indra manusia secara seluruhan [visual, audio, dan kinetic]. Dalam permainan semuanya akan terlibat.

    • Pengulangan [repetitive] diperlukan dalam pembelajaran, namun nuansa acapkali membonceng kebosanan. Permainan akan menjadi jembatannya

    • Fetique [kelelahan] selalu muncul dalam situasi yang kurang menyenangkan, dengan permainan hambatan ini menjadi terkurangi.

    TUJUAN PERMAINAN:

    • Membangun konsep diri
    • Mengembangkan kreativitas
    • Mengembangkan komunikasi
    • Mengembangkan aspek fisk dan motorik
    • Mengembangkan aspek sosial
    • Mengembangkan aspek emosi dan kepribadian
    • Mengembangkan aspek kognisi
    • Mengasah ketajaman penginderaan
    • Mengembangkan ketrampilan tari dan olahraga

    KECERDASAN YANG MUNCUL DALAM PERMAINAN:

    • Linguistic intelligence [word smart];
    • Logical-mathematical intelligence [number/reasoning smart]
    • Spatial intelligence [picture smart]
    • Bodily-Kinesthetic intelligence [body smart]
    • Musical intelligence [music smart]
    • Interpersonal intelligence [people smart]
    • Interpersonal intelligence [self smart]
    • Naturalist intelligence [nature smart]

    MANFAAT BERMAIN MENURUT PAKAR:

    [Diambil dari buku “Cerdas dan Cemerlang”. Prof, Joan Freeman dan Prof Utami Munandar 1966]

    1. Sebagai penyalur energi berlebihan yang dimiliki anak. Anak memiliki energi berlebihan karena terbebas dari segala macam tekanan, baik tekanan ekonomis mampun sosial, sehingga ia menggungkapkan energinya dalam bermain. (Sciller & Spericer)
    2. Sebagai sarana untuk menyiapkan hidupnya kelak dewasa. Melalui bermain, seorang-orang anak menyiapkan diri untuk hidupnya kelak jika dewasa. Misalnya, dengan bermain peran secara tidak sadar ia menyiapkam diri untuk peran atau pekerjaannnya di masa depan [Karl Groos]
    3. Sebagai pelanjut citra kemanusiaan. Melalui bermain anak melewati tahap-tahap perkembangan yang sama dari pekerjaan sejarah umat manusia [Teori Rekapitulasi]. Kegiatan-kegiatan seperti lari, melempar, memanjat, dan melompat, merupakan bagian dari kehidupan sehari-hari generasi ke generasi [Stanley Hall]
    4. Untuk membangun energi yang hilang. Bermain merupakan medium untuk menyegarkan badan kembali [recovery] setelah bekerja selama berjam-jam [Lazarus]
    5. Untuk memperoleh kompensasi atas hal-hal yang tidak diperolehnya. Melalui kegiatan bermain, anak memuaskan keinginan-keinginannya yang terpendan atau tertekan.
    6. Bermain juga memungkinkan anak melepaskan perasaan-perasaan dan emosi-emosinya, yang dalam realitas tidak dapat diungkapkan [Mazhab Psikoanalisis].
    7. Memberi stimuli pada pembentukan kepribadian. Kepribadian terus berkembang dan untuk pertumbuhan yang normal, perlu ada rangsangan [stimuli], dan bermain memberikan stimulus ini untuk pertumbuhan [Appleton]


    FUNGSI PERMAINAN UNTUK MEMBENTUK KELOMPOK [TEAM BUILDING]

    Permainan sangat representative untuk membangun kekompakkan tim, kepemipinan, dan memecahkan permasalahan. Dengan permainan akan mengkodisi setiap individu untuk berempati terhadap orang lain, belajar bertanggungjawab dalam setiap tindakan, serta menerima perbedaan sebagai bentuk kekayaan kelompok. Dengan kekompakan kelompok dapat diberdayakan guna meningkatkan daya saing antar kelompok.

    FUNGSI PERMAINAN SEBAGAI PENYEGAR SUASANA [ENERGIZER]

    Perimanan dapat digunakan sebagai selingan ketika suasana sudah jenuh dan membosankan.Tak dapat dipungkiri bahwa suasana yang penuh relaksasi akan mengembalikan sikap mental yang telah mengendor, kembali bersemangat.. Kunci keberhasilan sebuah pembelajaran, pelatihan, semiloka atau sejenisnya, bila permainan penyegar suasana telah disiapkan


    FUNGSI PERMAINAN SEBAGAI PEMECAH KEBEKUAN [ICE BREAKER]
    Sering kali muncul suasana beku ketika dalam kegiatan yang membutuhkan konsentrasi besar, seperti kegiatan belajar, pelatihan, atau perkenalan anggota baru. Hal ini dapat disebabkan karena keteganggan. Bahkan “bab mood” dapat juga bisa merusak suasana yang pada awalnya kondusif. Permainan harus

    Wednesday, March 12, 2008

    CATATAN RINGKAS PEMBELAJARAN USIA DINI


    Menurut :Carolyn Triyon & Jw Lilienthal
    • Berkembang menjadi pribadi yang mandiri
    • Belajar memberi, berbagi dan memperoleh kasih sayang
    • Belajar bergaul
    • Mengembangkan pengendalian diri
    • Belajar bermacam-macam peran dalam masyarakat.
    • Belajar mengenal tubuh
    • Mengenal lingkungan fisik dan mengendalikannya
    • Menguasai kata-kata baru
    • Mengambangkan perasaan positif

    APA ITU DIKDAKTIK
    Johan Amos Comenius seorang orang yang
    dilahirkan di Cekoslowakia [1657], menyusun ilmu tentang mendidik dalam bahasa latin Didactica Magna yang artinya “ilmu mengajar
    Didaskoo: ARTINYA “SAYA MENGAJAR”

    Azas mendidik:
    Agar seorang guru ataupun calon guru
    dapat mengajar dengan baik,
    dan dapat dipertanggung jawabkan
    Secara didaktik dan metodik
    Harus disandarkan pada azas mendidik

    9 AZAS:
    • Azas perhatian terpusat
    • Azas aktivitas
    • Azas apersepsi
    • Azas peragaan
    • Azas pengulangan
    • Azas korelasi/integrasi
    • Azas invidualisasi
    • Azas sosialisasi
    • Azas evaluasi

    Kaitan PKB dengan Metode
    Cara kerja yang teratur dan sistematis untuk melaksanakan suatu kegiatan sehingga dapat mencapai suatu tujuan

    PERINGATN KETIKA MEMILIH METODE:

    Setiap metode memiliki bergai jenis dan fungsi
    • Tingkat kematangan anak yang bervariasi
    • Lingkungan anak yang agak berbeda
    • Fasilitas yang berbeda
    • Pribadi dan kemampuan profesi yang berbeda
    JENIS METODE:
    • Informatif
    • Partisipatif
    • Partisipasi Eksperensial
    • Eksperensial
    • Evaluasi
    Informatif:
    Metode ini digunakan menyampaikan informasi yang bersifat monolog dan satu arah [one way traffic]
    • Metode ceramah [lecture method]
    • Bacaan terarah [directed reading]
    • Diskusi panel [panel discussion]
    • Simposium [symposium]
    • Bercerita [story telling]
    Partisipatif:
    Metode ini digunakan menyampaikan materi melalui pendekatan partisipatif dengan melibatkan para peserta
    • Pernyataan [Statement]
    • Pengumpulan gagasan [Brainstorming]
    • Audio visual
    • Diskusi kelompok [group discussion]
    • Bercakap-cakap [buzz group]
    • Forum
    Gunakan:
    • Kuiz [quiz]
    • Studi kasus [case study]
    • Peristiwa [accident]
    • Peragaan peran [role play]
    Partisipati Eksperensial
    Metode ini digunakan menyampaikan materi melalui pendekatan partisipatif sekaligus ekperensial
    • Pertemuan [meeting]
    • Latihan simulasi [simulation exercise]
    • Demonstrasi [demonstration]
    Eksperensial:
    Metode yang memberikan kemungkinan kepada siswa untuk belajar melalui pengalaman langsung/nyata
    • Ungkapan kreatif [creative expression]
    • Belajar berjalan buta[blind walk]
    • Lokakarya [workshop]
    Gunakan:
    • Penugasan [Assigment in installment]
    • Kunjungan lapangan [field visit]
    • Kerja proyek [project work]
    • Tinggal di tempat [field placement]
    Evaluasi:
    Digunakan untuk mengevaluasi antara tujuan diharapkan dan yang dicapai
    [Usia dini tak kenal ujian tulis]

    METODE UNTUK USIA TK & KELOMPOK BERMAIN:
    • Bercerita
    • Bercakap-cakap
    • Diskusi
    • Tanya jawab
    • Mengucap syair
    • Dramatisasi
    • Pemberian tugas
    • Praktik langsung
    • Demonstrasi dan percobaan
    • pantomin
    • Bermain
    • Proyek/kerja kelompok
    • Gerak lagu
    • Senam
    • Menari
    • Permainan musik
    • Aktraktif