Google

Tuesday, May 27, 2008

PERMAINAN DALAM PEMBELAJARAN



PENGANTAR:
Kita sadar bahwa bermain adalah sebuah dunia yang penuh keragaman dan menyenangkan, barangkali lebih tepat bila dinyatakan “mengasyikkan”.
Siapa saja yang terlibat akan merasa terhibur dan senang, bahkan akan menjadi sebuah energi potensial yang tak tertandingi.
Terminologi bermain, melekat pada realitasnya, artinya seorang-orang akan merasakannya ketika melakukan. Hampir setiap orang dapat dipastikan paham akan makna bermain, tanpa harus mencari ensiklopedi, orang jadi mengerti. Hal ini dikarenakan bermain itu adalah bagian hidup dari manusia.
Bermain merupakan aktivitas yang menyenangkan, oleh karenanya harus difungsikan dengan optimal, serta dimanfaatkan untuk berbagai tujuan
Proses pembelajaran seharusnya, memainkan fungsi-fungsi permainan, karena tujuan membelajarkan seorang orang akan tercapai manakala berada pada kondisi yang menyenangkan. Beberapa fenomena menunjukkan kepada kita, yakni munculnya sinyalemen negative kepada dunia pendidikan. Selanjutnya fenomena itu menjadikan seorang Paulo Fraire menorehkan potret empirinya, ke dalam buku “Pendidikan yang Menindas” [Pedagogy oppressed]. Fenomena itu terkesan dan mengesankan bahwa pendidikan seperti memenjara siswa. Oleh karenanya anak perlu dibebaskan, demikian kata Ivan Illich. Bahkan Nail Postman mengatakan bahwa pembelajaran merupakan aktivitas subversive.
Tentunya hal ini tidak terjadi manakala permainan diijeksikan sebagai metode pembelajaran. Dengan penerapan itu, maka pernyataan pendidikan sebagai penindasan, atau pembelajaran sebagai aktivitas subversi akan tereduksi.
Beberapa pakar psikologi berpendapat bahwa kegiatan bermain dapat menjadi sarana untuk perkembangan anak. Dengan melakukan permainan serta merta akan melatih fisiknya. Demikian juga akan terjadi pada kemampuan kognisinya..


MANUSIA ADALAH MAKHLUK BERMAIN
Pada hakikatnya dalam diri manusia tersimpan hasrat bermain yang tak terhingga kadarnya, oleh karenanya manusia tidak dapat dilepaskan dari masalah bermain. Misalnya kebutuhan akan berkumpul, berkelompok, bersinergi ataupun bersosialisasi, rasanya tidak dapat meninggalkan masalah bermain. Hampir tidak ada perbedaan dari jenjang usia, apakah itu orang dewasa, atau pun anak-anak. Dengan bermain, anak-anak akan mendapatkan berbagai pengalaman, melalui permainan anak-anak juga akan dapat mengekplorasi alam sekitarnya. Sementara orang dewasa membutuhkan daya relaksasi yang tinggi, karena berbagai hamparan permasalah hampir pasti datang dan jarang berhenti. Permainan adalah sarana yang mampu menyapu, dan menjadi solusi tetap dan tepat, karena permainan akan mengambil peran mediasi sekaligus mereduksi.


PENDAPAT PAKAR TENTANG PERMAINAN
  • Sederet Ahli Filsafat seperti Plato, Aristoteles, kemudian beberapa Ahli Pendidikan seperti Comenius, Rouseau, Pestalozi, Froebel, al-Ghazali, Avecenna [Ibnu Sina], dan Ibnu Khaldun menekankan betapa pentingnya permainan bagi seorang anak. Bagi mereka, bermain dipandang sebagai kegiatan alamiah, dalam memperoleh pengetahuan, pengalaman, alat menemukan kreativitas, serta sarana untuk mengembangkan kecerdasan.
  • Montenssori [1961], menggambarkan jika ketika anak bermain, dan berada dalam situasi keserasian, akan merekonstruksi sebuah kreativitas.
  • Zakiyah Derajat [1976], permainan mempunyai peranan penting dalam dalam pembinaan pribadi anak
  • Joan Freman dan Utami Menandar [1995], menyebutkan bahwa pada umumnya bermain merupakan suatu aktivitas yang membantu anak mencapai perkembangan yang utuh, baik fisik,intelektual, sosial, moral, dan emosional.
  • Hughes [199], suatu kegiatan bermain harus memiliki lima syarat yakni:
  1. Mempunyai tujuan, yaitu permainan itu sendiri untuk mendapatkan kepuasan
  2. Memilih dengan bebas dan atas kehendak sendiri, tidak ada paksaan
  3. Menyenangkan dan dapat dinikmati
  4. Mengkhayal untuk mengembangkan imajinasi dan kreativitas
  5. Melakukan secara aktif dan sadar
  • Frank dan Theresia Caplan, enam belas hakikat bermain
  1. Membantu pertumbuhan anak
  2. Merupakan kegiatan yang dilakukan secara sukarela
  3. Memberikan kebebasan anak untuk bertindak
  4. Memberikan dunia khayal yang disukai anak
  5. Mempunyai unsur berpetualang di dalamnya
  6. Meletakkan dasar pengembangan bahasa
  7. Mempunyai pengaruh yang unik dalam pembentukan hubungan antar pribadi.
  8. Memberikan kesempatan untuk menguasai diri secara fisik
  9. Memperluas minat dan pemusatan perhatian
  10. Merupakan cara untuk menyelidiki sesuatu
  11. Merupakan cara anak memepelajari peran orang dewasa
  12. Merupakan cara dinamis untuk belajar
  13. Menjernihkan pemikiran anak
  14. Dapat distruktur secara akademis
  15. Merupakan sesuatu yang esensial bagi kelestarian hidup
  16. Merupakan kekuatan hidup
  • MENGAPA PEMBELAJARAN PERLU RAGAM PERMAINAN

  • Ketika permainan menjadi wahana pembelajaran,
    menjadikan seorang pembelajar bukanlah hal yang sulit,. Karena dalam bermain terdapat unsur imajinasi dan kreasi. Disamping itu pula permainan memiliki kemampuan untuk mestimuli orang untuk berani. Permainan akan melepaskan simbol-simbol diri, dan menjadi sebuah entitas baru.
    Selanjutnya alasan-alasan lain yang melatari perlunya permainan, adalah:

    • Pada umumnya manusia sangat senang mobilitas, dari pada duduk berdiam diri, bergerak dan dinamis itulah jatidirinya.

    • Manusia dewasa maupun anak-anak sangat membutuhkan pengalaman yang kaya, bervariasi, bermakna sekaligus mengasyikkan.

    • Otak usia anak-anak sangat senang dengan hadirnya sesuatu yang baru, menarik, menantang, dan menakjubkan

    • Permainan cenderung menstimuli otak, apalagi dengan melibatkan indra manusia secara seluruhan [visual, audio, dan kinetic]. Dalam permainan semuanya akan terlibat.

    • Pengulangan [repetitive] diperlukan dalam pembelajaran, namun nuansa acapkali membonceng kebosanan. Permainan akan menjadi jembatannya

    • Fetique [kelelahan] selalu muncul dalam situasi yang kurang menyenangkan, dengan permainan hambatan ini menjadi terkurangi.

    TUJUAN PERMAINAN:

    • Membangun konsep diri
    • Mengembangkan kreativitas
    • Mengembangkan komunikasi
    • Mengembangkan aspek fisk dan motorik
    • Mengembangkan aspek sosial
    • Mengembangkan aspek emosi dan kepribadian
    • Mengembangkan aspek kognisi
    • Mengasah ketajaman penginderaan
    • Mengembangkan ketrampilan tari dan olahraga

    KECERDASAN YANG MUNCUL DALAM PERMAINAN:

    • Linguistic intelligence [word smart];
    • Logical-mathematical intelligence [number/reasoning smart]
    • Spatial intelligence [picture smart]
    • Bodily-Kinesthetic intelligence [body smart]
    • Musical intelligence [music smart]
    • Interpersonal intelligence [people smart]
    • Interpersonal intelligence [self smart]
    • Naturalist intelligence [nature smart]

    MANFAAT BERMAIN MENURUT PAKAR:

    [Diambil dari buku “Cerdas dan Cemerlang”. Prof, Joan Freeman dan Prof Utami Munandar 1966]

    1. Sebagai penyalur energi berlebihan yang dimiliki anak. Anak memiliki energi berlebihan karena terbebas dari segala macam tekanan, baik tekanan ekonomis mampun sosial, sehingga ia menggungkapkan energinya dalam bermain. (Sciller & Spericer)
    2. Sebagai sarana untuk menyiapkan hidupnya kelak dewasa. Melalui bermain, seorang-orang anak menyiapkan diri untuk hidupnya kelak jika dewasa. Misalnya, dengan bermain peran secara tidak sadar ia menyiapkam diri untuk peran atau pekerjaannnya di masa depan [Karl Groos]
    3. Sebagai pelanjut citra kemanusiaan. Melalui bermain anak melewati tahap-tahap perkembangan yang sama dari pekerjaan sejarah umat manusia [Teori Rekapitulasi]. Kegiatan-kegiatan seperti lari, melempar, memanjat, dan melompat, merupakan bagian dari kehidupan sehari-hari generasi ke generasi [Stanley Hall]
    4. Untuk membangun energi yang hilang. Bermain merupakan medium untuk menyegarkan badan kembali [recovery] setelah bekerja selama berjam-jam [Lazarus]
    5. Untuk memperoleh kompensasi atas hal-hal yang tidak diperolehnya. Melalui kegiatan bermain, anak memuaskan keinginan-keinginannya yang terpendan atau tertekan.
    6. Bermain juga memungkinkan anak melepaskan perasaan-perasaan dan emosi-emosinya, yang dalam realitas tidak dapat diungkapkan [Mazhab Psikoanalisis].
    7. Memberi stimuli pada pembentukan kepribadian. Kepribadian terus berkembang dan untuk pertumbuhan yang normal, perlu ada rangsangan [stimuli], dan bermain memberikan stimulus ini untuk pertumbuhan [Appleton]


    FUNGSI PERMAINAN UNTUK MEMBENTUK KELOMPOK [TEAM BUILDING]

    Permainan sangat representative untuk membangun kekompakkan tim, kepemipinan, dan memecahkan permasalahan. Dengan permainan akan mengkodisi setiap individu untuk berempati terhadap orang lain, belajar bertanggungjawab dalam setiap tindakan, serta menerima perbedaan sebagai bentuk kekayaan kelompok. Dengan kekompakan kelompok dapat diberdayakan guna meningkatkan daya saing antar kelompok.

    FUNGSI PERMAINAN SEBAGAI PENYEGAR SUASANA [ENERGIZER]

    Perimanan dapat digunakan sebagai selingan ketika suasana sudah jenuh dan membosankan.Tak dapat dipungkiri bahwa suasana yang penuh relaksasi akan mengembalikan sikap mental yang telah mengendor, kembali bersemangat.. Kunci keberhasilan sebuah pembelajaran, pelatihan, semiloka atau sejenisnya, bila permainan penyegar suasana telah disiapkan


    FUNGSI PERMAINAN SEBAGAI PEMECAH KEBEKUAN [ICE BREAKER]
    Sering kali muncul suasana beku ketika dalam kegiatan yang membutuhkan konsentrasi besar, seperti kegiatan belajar, pelatihan, atau perkenalan anggota baru. Hal ini dapat disebabkan karena keteganggan. Bahkan “bab mood” dapat juga bisa merusak suasana yang pada awalnya kondusif. Permainan harus

    2 comments:

    dani said...

    pak, msksh ats informasinya_

    Permainan Edukatif said...

    Tukisannya bagus, sayangnya Ands tidak bijak dengan tulisan yang Anda kutip.

    Andang Ismail, penulis: Education Games